LABUANBAJOVOICE.COM – Cuaca ekstrem kembali menegaskan kerentanannya di wilayah barat Flores. Angin kencang dengan kecepatan mencapai 29 knot atau sekitar 52 kilometer per jam sempat menerjang Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, pada Sabtu, 31 Januari 2026.

Peristiwa ini sontak memicu perhatian publik, mengingat Labuan Bajo merupakan kawasan pariwisata super prioritas nasional dengan aktivitas laut dan udara yang padat.

Data resmi tersebut dicatat oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas IV Komodo, sebagai bagian dari pengamatan cuaca rutin yang terus dilakukan di wilayah Manggarai Barat.

“Angin kencang 52 Km/jam. Angin terjadi karena awan petir cumulonibus,” kata Maria Patricia Christin Seran, Kepala Kantor BMKG Stasiun Meteorologi Kelas IV Komodo.

BMKG menegaskan bahwa peristiwa angin kencang ini bukan kejadian pertama di awal tahun 2026. Fenomena serupa bahkan pernah terjadi dengan intensitas yang lebih kuat dan muncul secara berulang.

“Bahkan lebih kencang dan terjadi secara periodik,” ujarnya.

Pernyataan ini mengindikasikan bahwa wilayah Manggarai Barat, khususnya Labuan Bajo, tengah berada dalam fase cuaca dinamis yang perlu diwaspadai oleh masyarakat, pelaku wisata, dan operator transportasi laut maupun udara.

Meski sempat mencapai kecepatan signifikan, BMKG memastikan angin kencang tersebut bersifat sementara dan tidak berlangsung lama.

“Ini anginnya durasi singkat karena ada awan cumulonimbus. Angin kencang tadi hanya sesaat saja, sekarang yg tercatat di alat kami untuk kecepatan angin sudah kembali di kisaran 5-10 knot,” jelas Maria.

Kondisi ini menunjukkan karakter khas angin yang dipicu oleh awan Cumulonimbus (Cb), yang dikenal mampu menghasilkan angin kencang mendadak, hujan lebat, hingga petir dalam waktu singkat.

Menjawab pertanyaan awak media terkait wilayah terdampak, BMKG menegaskan bahwa angin kencang tersebut tidak melanda seluruh wilayah Manggarai Barat.

“Karakter angin kencang yg dibangkitkan oleh adanya awan Cumulonimbus (cb) bersifat lokal dan tidak merata. Kejadiannya hanya di area yang tepat berada di bawah atau dekat pertumbuhan awan Cb saat itu,” ujarnya.

“Jadi tidak mencakup seluruh wilayah Manggarai Barat, hanya spot-spot tertentu yang dilintasi sel awan tersebut,” tambah Maria.

Dengan karakter yang sangat lokal, dampak angin kencang bisa sangat berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lain, bahkan dalam jarak yang relatif dekat.

BMKG juga mengungkap keterbatasan teknis dalam memetakan wilayah terdampak secara detail, terutama karena fenomena ini berkembang cepat dan bersifat lokal.

“Jika tanpa radar cuaca, tidak dapat dipastikan wilayah mana saja yg terkena angin kencang karena awan ini,” ujarnya.

Karena fenomena ini berasal dari awan Cumulonimbus yang bersifat lokal dan berkembang cepat, tanpa dukungan radar cuaca, wilayah terdampak angin kencang tidak dapat dipetakan secara detail.

Informasi lokasi terdampak biasanya diperoleh dari laporan pengamatan visual dan laporan lapangan dari masyarakat.

Kejadian ini menjadi peringatan serius bagi kawasan Labuan Bajo yang bergantung pada stabilitas cuaca, khususnya untuk aktivitas pelayaran wisata, nelayan, hingga penerbangan.

BMKG mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap perubahan cuaca mendadak, terutama saat muncul awan gelap disertai petir.

Fenomena angin kencang sesaat seperti ini diperkirakan masih berpotensi terjadi ke depan, seiring dinamika atmosfer di wilayah Nusa Tenggara Timur pada musim pancaroba dan musim hujan.**