LABUANBAJOVOICE.COM – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan tinggi gelombang di sejumlah wilayah perairan Labuan Bajo, Taman Nasional Komodo, dan Selat Sape pada 10–12 Oktober 2026 bervariasi hingga mencapai 2,6 meter.
Berdasarkan informasi prakiraan cuaca maritim BMKG, perairan Selat Sape bagian selatan berpotensi mengalami gelombang tertinggi dibandingkan wilayah perairan lainnya dalam periode tersebut.
Pada Sabtu, 10 Oktober 2026, tinggi gelombang di Selat Sape bagian selatan diprakirakan berkisar 1,4–1,9 meter. Kondisi tersebut meningkat pada Minggu, 11 Oktober 2026, dengan kisaran 1,6–2,1 meter.
Sementara itu, pada Senin, 12 Oktober 2026, tinggi gelombang di wilayah tersebut diprakirakan mencapai 1,7–2,6 meter.
Kondisi ini perlu menjadi perhatian pengguna jasa transportasi laut, nelayan, serta operator kapal yang beraktivitas di kawasan tersebut, terutama dalam merencanakan perjalanan dan menentukan waktu pelayaran.
Gelombang Perairan Taman Nasional Komodo Mencapai 1,7 Meter
Di perairan Taman Nasional Komodo, tinggi gelombang diprakirakan berkisar 1,3–1,5 meter pada 10 dan 11 Oktober 2026. Pada 12 Oktober 2026, tinggi gelombang berpotensi meningkat menjadi 1,5–1,7 meter.
Karakteristik perairan kepulauan di kawasan Taman Nasional Komodo juga perlu diperhatikan karena arus laut dapat cukup kuat dan memengaruhi keselamatan pelayaran.
BMKG mengimbau nakhoda dan nelayan agar memperhatikan jadwal pasang surut. Perubahan pasang surut dapat memengaruhi kecepatan dan arah arus, sehingga berisiko terhadap stabilitas kapal apabila tidak diantisipasi dengan baik.
Perairan Labuan Bajo Relatif Tenang
Berbeda dengan Selat Sape bagian selatan dan perairan Taman Nasional Komodo, kondisi gelombang di perairan Labuan Bajo diprakirakan relatif rendah selama periode yang sama.
Pada 10 Oktober 2026, tinggi gelombang diperkirakan berkisar 0,1–0,2 meter. Pada 11 Oktober, gelombang diprakirakan berada pada kisaran 0,2–0,4 meter dan bertahan pada kisaran yang sama hingga 12 Oktober 2026.
Sementara itu, di Selat Sape bagian utara, tinggi gelombang diprakirakan berkisar 0,6–1,4 meter pada 10 Oktober, meningkat menjadi 0,7–1,5 meter pada 11 Oktober, kemudian berada pada kisaran 0,9–1,3 meter pada 12 Oktober 2026.
Perbedaan kondisi gelombang tersebut menunjukkan bahwa pengguna transportasi laut perlu memperhatikan prakiraan untuk wilayah perairan yang menjadi tujuan perjalanan, bukan hanya kondisi di sekitar pelabuhan keberangkatan.
BMKG mengimbau pengguna jasa transportasi laut, nelayan, dan operator kapal untuk tetap waspada terhadap potensi gelombang sedang serta peningkatan kecepatan angin atau gust yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Selain memperhatikan tinggi gelombang, nakhoda kapal juga diminta mencermati jadwal pasang surut, khususnya ketika melintasi perairan kepulauan Taman Nasional Komodo yang memiliki karakteristik arus cukup kuat.
Informasi cuaca maritim perlu diperiksa secara berkala sebelum keberangkatan dan selama merencanakan aktivitas di laut.
Operator kapal juga perlu mempertimbangkan kondisi aktual, kemampuan kapal, serta keselamatan penumpang dan awak sebelum memutuskan untuk berlayar.**





Tinggalkan Balasan