LABUANBAJOVOICE.COM – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini potensi gelombang tinggi di sejumlah perairan Nusa Tenggara Timur (NTT) akibat pengaruh Bibit Siklon Tropis 97S di Samudra Hindia barat daya NTT.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas IV Komodo, Maria Patricia Christin Seran, menjelaskan bahwa prakiraan tinggi gelombang tujuh harian untuk wilayah perairan Selat Sape bagian utara pada periode 21–25 Januari 2026 berada pada kategori sedang.

Sementara itu, Selat Sape bagian selatan juga berada pada kategori serupa, namun pada 22 dan 23 Januari 2026 diprediksi akan meningkat ke kategori yang lebih tinggi.

Selain gelombang, BMKG juga memprakirakan angin kencang masih berpotensi terjadi dalam beberapa hari ke depan.

Kondisi ini berkaitan dengan keberadaan Bibit Siklon Tropis 97S yang memicu peningkatan kecepatan angin di wilayah NTT.

“Informasi ini merupakan prakiraan maritim dari BMKG Stasiun Meteorologi Maritim Tenau Kupang. Selain tinggi gelombang, cuaca dalam tiga hari ke depan masih berpotensi hujan sedang hingga lebat disertai angin kencang,” jelas Maria, Senin (20/1/2026).

BMKG Maritim Tenau Kupang mencatat, bibit siklon yang berada di wilayah Australia bagian barat tersebut bergerak ke arah barat dan membentuk daerah belokan serta pertemuan angin di wilayah NTT.

Kondisi ini diperkuat oleh aktifnya fenomena Madden Julian Oscillation (MJO) yang turut meningkatkan potensi hujan dan cuaca buruk di wilayah NTT.

Pola angin di wilayah NTT umumnya bergerak dari barat daya hingga barat laut dengan kecepatan berkisar 8 hingga 37 knot, yang berpotensi meningkatkan tinggi gelombang laut secara signifikan.

BMKG memprakirakan gelombang setinggi 1,25–2,5 meter berpeluang terjadi di:

  • Selat Sape bagian utara
  • Perairan utara Flores
  • Selat Flores–Lamakera
  • Selat Pantar
  • Selat Alor
  • Perairan selatan Alor–Pantar
  • Selat Sumba bagian timur
  • Selat Pukuafu.

Sementara gelombang lebih tinggi 2,5–4,0 meter berpeluang terjadi di:

  • Selat Sape bagian selatan
  • Perairan selatan Flores
  • Selat Sumba bagian barat
  • Laut Sawu
  • Selat Ombai
  • Perairan selatan Sumba
  • Perairan utara Sabu–Raijua
  • Perairan utara Timor
  • Perairan utara Kupang–Rote
  • Perairan selatan Sabu–Raijua
  • Perairan selatan Timor–Rote.

BMKG mengingatkan bahwa kondisi tersebut berisiko terhadap keselamatan pelayaran, khususnya:

  • Perahu nelayan, apabila kecepatan angin mencapai 15 knot dan gelombang 1,25 meter;
  • Kapal tongkang, apabila angin 16 knot dan gelombang 1,5 meter;
  • Kapal ferry, apabila angin 21 knot dan gelombang 2,5 meter

BMKG juga mewaspadai potensi munculnya awan cumulonimbus yang dapat meningkatkan tinggi gelombang serta menyebabkan perubahan arah dan kecepatan angin secara tiba-tiba.

BMKG mengimbau masyarakat pesisir, nelayan, serta operator pelayaran di wilayah NTT untuk meningkatkan kewaspadaan, menunda aktivitas melaut saat cuaca memburuk, serta terus memantau informasi resmi cuaca maritim dari BMKG.**