BMKG Maritim Tenau Kupang mencatat, bibit siklon yang berada di wilayah Australia bagian barat tersebut bergerak ke arah barat dan membentuk daerah belokan serta pertemuan angin di wilayah NTT.

Kondisi ini diperkuat oleh aktifnya fenomena Madden Julian Oscillation (MJO) yang turut meningkatkan potensi hujan dan cuaca buruk di wilayah NTT.

Pola angin di wilayah NTT umumnya bergerak dari barat daya hingga barat laut dengan kecepatan berkisar 8 hingga 37 knot, yang berpotensi meningkatkan tinggi gelombang laut secara signifikan.

BMKG memprakirakan gelombang setinggi 1,25–2,5 meter berpeluang terjadi di:

  • Selat Sape bagian utara
  • Perairan utara Flores
  • Selat Flores–Lamakera
  • Selat Pantar
  • Selat Alor
  • Perairan selatan Alor–Pantar
  • Selat Sumba bagian timur
  • Selat Pukuafu.

Sementara gelombang lebih tinggi 2,5–4,0 meter berpeluang terjadi di:

  • Selat Sape bagian selatan
  • Perairan selatan Flores
  • Selat Sumba bagian barat
  • Laut Sawu
  • Selat Ombai
  • Perairan selatan Sumba
  • Perairan utara Sabu–Raijua
  • Perairan utara Timor
  • Perairan utara Kupang–Rote
  • Perairan selatan Sabu–Raijua
  • Perairan selatan Timor–Rote.

BMKG mengingatkan bahwa kondisi tersebut berisiko terhadap keselamatan pelayaran, khususnya:

  • Perahu nelayan, apabila kecepatan angin mencapai 15 knot dan gelombang 1,25 meter;
  • Kapal tongkang, apabila angin 16 knot dan gelombang 1,5 meter;
  • Kapal ferry, apabila angin 21 knot dan gelombang 2,5 meter

BMKG juga mewaspadai potensi munculnya awan cumulonimbus yang dapat meningkatkan tinggi gelombang serta menyebabkan perubahan arah dan kecepatan angin secara tiba-tiba.