LABUANBAJOVOICE.COM – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas IV Komodo mengeluarkan imbauan kewaspadaan kepada masyarakat pesisir, nelayan, serta pelaku wisata bahari di wilayah perairan Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat.

Imbauan ini menyusul potensi peningkatan tinggi gelombang laut yang dipengaruhi oleh kemunculan bibit siklon tropis 96S di wilayah barat daya Pulau Sumba.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas IV Komodo, Maria Patricia Christin Seran, menjelaskan bahwa kondisi gelombang di perairan Labuan Bajo saat ini berada pada kategori sedang dan berpotensi meningkat signifikan.

“Tinggi gelombang saat ini berkisar 0,7–1,5 meter (kategori sedang) dan berpotensi meningkat secara signifikan akibat pengaruh bibit siklon 96S di barat daya Pulau Sumba,” ujar Maria, Jumat (26/12/2026).

Maria menjelaskan, bibit siklon 96S tidak hanya berdampak pada peningkatan tinggi gelombang, tetapi juga berpotensi memicu hujan dengan intensitas lebih tinggi, angin kencang, serta gelombang alun (swell).

Gelombang alun, kata dia, merupakan gelombang yang terbentuk dari pusat badai dan dapat merambat jauh hingga ke wilayah perairan sekitarnya.

“Sistem ini juga berpotensi meningkatkan intensitas hujan dan angin kencang, serta alun atau swell yang dapat merambat hingga ke perairan Taman Nasional Komodo,” jelasnya.

Fenomena gelombang tinggi tersebut, menurut Maria, telah berlangsung sejak Kamis, 25 Desember 2025. Yang menjadi perhatian khusus, kondisi ini tidak hanya terjadi di wilayah selatan Selat Sape, tetapi juga meluas ke bagian utara yang biasanya relatif lebih tenang.

“Gelombang sudah mulai naik sejak kemarin, biasanya hanya di selatan tapi kali ini juga di perairan utara dari Selat Sape yang biasanya cenderung lebih rendah,” kata Maria.

Ia menambahkan, status sistem cuaca tersebut telah meningkat menjadi bibit siklon 96S sejak 25 Desember 2025, setelah sebelumnya hanya teridentifikasi sebagai daerah tekanan rendah.

BMKG juga menegaskan adanya batasan keselamatan pelayaran yang harus dipatuhi seluruh pengguna jasa laut, khususnya nelayan dan operator kapal wisata.

“Perahu nelayan diimbau tidak melaut saat angin ≥15 knot dan gelombang ≥1,25 meter,” tegas Maria.

Selain itu, kata Maria, Kapal tongkang dan kapal kecil agar menunda pelayaran saat angin ≥16 knot dan gelombang ≥1,5 meter.

Kemudian, lanjutnya, Kapal ferry diimbau meningkatkan kewaspadaan saat angin ≥21 knot dan gelombang ≥2,5 meter.

Maria menegaskan bahwa BMKG hanya memiliki kewenangan memberikan imbauan dan peringatan dini. Namun, seluruh pengguna jasa pelayaran di perairan Manggarai Barat dan Taman Nasional Komodo diminta menyesuaikan aktivitas dengan kondisi cuaca terkini.

“Kami hanya bisa menghimbau seluruh pengguna jasa pelayaran dan operator kapal wisata di perairan Manggarai Barat dan Taman Nasional Komodo untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi peningkatan angin dan gelombang,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya koordinasi dengan otoritas pelabuhan.

“Penyesuaian operasional pelayaran agar disesuaikan dengan kondisi cuaca terkini dan ketentuan keselamatan pelayaran oleh KSOP, serta selalu memantau informasi dan peringatan dini BMKG,” lanjut Maria.

BMKG Stasiun Meteorologi Komodo memastikan bahwa informasi cuaca maritim, termasuk arah dan kecepatan angin hingga angin maksimum, telah disampaikan secara rutin kepada masyarakat.

Maria menyebutkan bahwa data tersebut dibagikan setiap hari melalui berbagai kanal resmi.

Informasi cuaca maritim rutin dibagikan melalui grup WhatsApp resmi BMKG Manggarai Barat, grup nelayan, serta media sosial BMKG, sehingga pelaku pelayaran dan wisata bahari memiliki pegangan data yang cukup sebelum beraktivitas.

Maria mengimbau seluruh masyarakat pesisir, nelayan, dan pelaku wisata bahari untuk selalu memantau perkembangan informasi cuaca dari BMKG dan mengutamakan keselamatan saat beraktivitas di laut.**