LABUANBAJOVOICE.COM – Bencana tanah longsor melanda Kampung Pau, Desa Goreng Meni, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur, Kamis (22/1/2026). Peristiwa ini menyebabkan dua warga tertimbun material longsor dan dinyatakan hilang, sementara dua lainnya mengalami luka-luka.
Informasi tersebut dibenarkan oleh Staf Kecamatan Lamba Leda, Ansel Kalus, saat dikonfirmasi pada Kamis malam.
“Dua warga tertimbun dan masih hilang dan dua orang luka,” ungkap Ansel dalam keterangannya.
Ansel menerangkan bahwa dua warga yang tertimbun longsor masing-masing berasal dari dua wilayah berbeda.
“Yang hilang yakni 1 warga Kampung Tuwa atas nama Yustina Mira dan satunya adalah warga Tontong Desa Compang Weluk, Kecamatan Lamba Leda Selatan,” jelasnya.
Hingga Kamis malam, upaya pencarian masih terkendala cuaca dan keterbatasan akses menuju lokasi longsor. Sementara itu, demi keselamatan, seluruh warga Kampung Pau telah dievakuasi.
“Saat ini semua warga Kampung Pau mengungsi ke Kampung Rentung,” ungkap Ansel.
Langkah evakuasi massal ini dilakukan sebagai antisipasi longsor susulan mengingat kondisi tanah masih labil akibat curah hujan tinggi yang terus mengguyur wilayah tersebut.
Selain menelan korban, longsor tersebut juga mengakibatkan kerusakan serius pada berbagai aset milik warga. Material longsor dilaporkan menimbun area persawahan, kebun, tambak ikan warga, serta halaman depan SDK Meni, sehingga aktivitas pertanian dan pendidikan terhenti sementara.
Kerusakan ini berpotensi memengaruhi ketahanan pangan lokal dan perekonomian warga dalam jangka pendek, mengingat sebagian besar masyarakat setempat bergantung pada sektor pertanian dan perikanan darat.
Dampak longsor tidak hanya terbatas pada kerusakan fisik, tetapi juga melumpuhkan jaringan infrastruktur vital. Ansel menyebut jaringan listrik menuju Kampung Tuwa, Desa Goreng Meni, terputus total.
“Listrik mati total untuk wilayah Kecamatan Lamba Leda dari pagi sampai saat ini. Jaringan internet dan telepon juga hilang total. Kami naik di atas batu jadi dapat jaringan dari Ruteng sehingga bisa kirim laporan,” imbuhnya.
Kondisi ini membuat komunikasi dan koordinasi penanganan bencana menjadi sangat terbatas, sekaligus menyulitkan distribusi bantuan dan proses pencarian korban.
Putusnya akses komunikasi dan listrik menjadi tantangan serius dalam penanganan bencana di Lamba Leda. Selain menghambat pelaporan situasi terkini, kondisi ini juga berisiko memperlambat kedatangan bantuan dari luar wilayah.
Dengan intensitas hujan yang masih tinggi dan struktur tanah yang belum stabil, potensi longsor susulan masih mengancam kawasan tersebut.
Pemerintah daerah bersama aparat terkait diharapkan segera melakukan asesmen cepat, membuka jalur evakuasi aman, serta menyalurkan bantuan logistik dan medis bagi para pengungsi.
Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi bencana lanjutan, khususnya yang tinggal di wilayah rawan longsor. Ke depan, diperlukan langkah mitigasi yang lebih sistematis, mulai dari pemetaan zona rawan longsor, penguatan tebing dan drainase, hingga edukasi kebencanaan kepada warga.**





Tinggalkan Balasan