LABUANBAJOVOICE.COM – Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Kabupaten Manggarai Barat menilai penerapan aplikasi SiOra milik Balai Taman Nasional Komodo (BTNK) belum sepenuhnya memberikan kepuasan bagi pelaku usaha wisata lokal, khususnya terkait sistem penjualan tiket masuk kawasan Taman Nasional Komodo (TNK).

Sekretaris ASITA Manggarai Barat, Getrudis Naus, mengungkapkan bahwa mekanisme penjualan tiket melalui aplikasi SiOra dinilai belum berpihak pada agen perjalanan lokal, terutama saat musim kunjungan wisata tinggi atau high season.

“Cara penjualan ticket masuknya yang kami belum puas,” ujar Getrudis Naus, Minggu lalu.

Menurut Getrudis, sistem SiOra memungkinkan siapa saja melakukan pendaftaran pembelian tiket dari mana saja tanpa harus berada di wilayah Manggarai Barat.

Kondisi tersebut, kata dia, dinilai berpotensi mempersempit peluang agen wisata lokal dalam mendapatkan kuota kunjungan wisatawan, khususnya pada periode puncak kunjungan wisata.

“Aplikasi SiOra ini bisa didaftarkan oleh semua orang dari mana saja, biar tidak perlu ada di daerah juga, bahkan diluar daerah juga bisa. Semua orang bisa akses darimana saja, berarti ini tandanya mematikan agen local untuk dapat quota sangat kecil kemungkinan di high seation (Juli – Agustus – September) setiap tahun,” kata Getrudis.

Ia menilai, jika BTNK ingin mengoptimalkan penerapan aplikasi SiOra sekaligus melindungi pengusaha wisata lokal, maka perlu adanya kebijakan yang memberikan ruang lebih besar bagi anggota ASITA Manggarai Barat dalam proses pembelian tiket kunjungan wisata.

“Yang beli ticket masuk itu harus member ASITA Mabar, biar pengusaha local di Mabar ini di perdayakan untuk bisa menyaingi pengusaha besar dari luar yang hanya datang pungut uang di musim rame saja, yang susahnya kita masyarakat local,” tegasnya.

Getrudis menambahkan, ASITA merupakan wadah pelaku usaha wisata lokal yang selama ini berperan dalam pengelolaan paket perjalanan wisata di Labuan Bajo dan sekitarnya.

Namun, tambahnya, sistem SiOra dinilai membuka peluang bagi wisatawan untuk membeli tiket secara mandiri tanpa melalui agen perjalanan lokal.

“ASITA ini pelaku lokal. Kalau Si ORA itu membuka luas bagi traveler langsung beli ticket SiOra itu untuk apa agent local ada, sama saja kita dengan traveler kan? ASITA mau dapat apa coba,” tegasnya kembali.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa keberadaan aplikasi digital sebenarnya tidak menjadi persoalan bagi pelaku usaha wisata lokal.

Namun, sambungnya, mekanisme yang memungkinkan wisatawan membeli tiket secara langsung dinilai menimbulkan ketidakpastian bagi agen perjalanan dalam menyusun paket wisata.

“Aplikasi tidak masalah cuman yang bergabung di situ untuk beli ticketnya itu yang buat kami di ASITA tidtidak nyaman. Tamu beli paket di kami tapi nanti pas cek ticket di SiOra habis jelas pasti tamunya batal, karena tujuan utama tamu itu kan komodo dulu baru yang lain-lain,” ujarnya.

ASITA Manggarai Barat berharap ke depan pengelolaan sistem tiket kunjungan kawasan Taman Nasional Komodo dapat memperhatikan keberlangsungan usaha pelaku wisata lokal sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem pariwisata di daerah tersebut.**