Mereka menarikan tari sanda dengan gerakan lembut dan kompak, diiringi alat musik tradisional yang dimainkan oleh peserta workshop lainnya.

Meski masih berusia dini, para peserta mampu menampilkan pertunjukan yang rapi dan penuh semangat. Gerakan sederhana yang mereka tampilkan mencerminkan upaya penanaman nilai pelestarian budaya sejak usia muda.

Pementasan tersebut merupakan puncak kegiatan Workshop Caci Anak Usia Dini yang berlangsung sejak 20 Februari 2026.

Program ini menjadi bagian dari inisiatif pengembangan ruang publik seni yang didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.

Kegiatan tersebut digagas oleh Mardaniyanti, seniman kreatif yang juga menjabat Sekretaris Umum Sanggar I Production Labuan Bajo.

Menurut Mardaniyanti, pengenalan caci kepada anak-anak merupakan langkah penting dalam menjaga keberlanjutan kesenian tradisional Manggarai.

“Selama ini caci identik dengan pertunjukan orang dewasa. Padahal anak-anak juga bisa mempelajari nilai dan gerakan dasarnya dengan pendekatan yang disesuaikan dengan usia mereka,” ujarnya.