LABUANBAJOVOICE.COM – Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat melalui Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, Koperasi dan UKM (Disnakertranskop UKM) mulai melakukan penataan dan pemugaran kawasan kuliner seafood Kampung Ujung, Labuan Bajo, sebagai bagian dari upaya meningkatkan kenyamanan pengunjung dan keberlanjutan usaha pelaku UMKM.

Kepala Disnakertranskop UKM Manggarai Barat, Theresia P. Asmon, Rabu (14/1/2026), mengungkapkan bahwa secara fisik kawasan tersebut memiliki 40 booth, sementara jumlah pelaku usaha yang menempati mencapai 42 orang.

Kondisi ini terjadi karena pada masa awal penataan terdapat pelaku usaha yang berbagi (sharing) satu booth.

“Jumlah booth tempat jual seafood Kampung Ujung berjumlah 40 booth, dengan jumlah pelaku usaha 42 orang. Dulu ada pelaku usaha yang sharing,” ujar Theresia.

Dari total pelaku usaha tersebut, yang aktif beroperasi saat ini berkisar 28 pelaku usaha.

Lebih lanjut, Theresia menjelaskan, dalam rapat Jumat, 9 Januari 2026, para pelaku usaha bersama pemerintah daerah menyepakati sejumlah poin penting yang merujuk pada catatan Bupati Manggarai Barat.

Salah satu poin utama adalah penutupan sementara kawasan kuliner selama dua hari guna melakukan pembenahan menyeluruh.

“Kami bersepakat menutup sementara selama dua hari untuk pembenahan, termasuk pemugaran booth, meja, kursi, serta saluran-saluran drainase yang selama ini mampet. Dan itu sudah berjalan dua hari kemarin,” jelasnya.

Setelah proses penataan awal dilakukan, beberapa booth yang telah selesai dibersihkan dan diperbaiki diizinkan kembali berjualan mulai malam ini.

“Hari ini beberapa booth yang sudah tuntas beberes diizinkan untuk mulai jualan malam ini, sambil memperbaiki hal-hal lain yang sudah disepakati untuk kenyamanan semua, baik tamu, penjual, maupun masyarakat lainnya,” kata Theresia.

Pada hari yang sama, juga dilakukan pemilihan kepengurusan, termasuk koordinator atau ketua beserta perangkatnya, guna mempercepat dan memperlancar seluruh urusan yang berkaitan dengan pengelolaan kuliner Kampung Ujung.

Pemugaran yang dilakukan meliputi pengecatan ulang booth, perbaikan struktur booth, perbaikan meja dan kursi, serta vernis ulang meja dan kursi.

Langkah ini diharapkan mampu memperbaiki tampilan kawasan kuliner agar lebih rapi, bersih, dan representatif sebagai destinasi wisata unggulan di Labuan Bajo.

Menanggapi persoalan saluran drainase yang kerap mampet, Theresia menegaskan bahwa kondisi tersebut bukan semata-mata akibat pelaku usaha membuang sampah sembarangan.

“Soal yang mampet itu, salurannya sudah banyak lumpur, pasir, dan ada sampah-sampah kecil yang menyumbat di dalam saluran pembuangan,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa kawasan tersebut merupakan akses terbuka untuk semua orang, sehingga persoalan drainase tidak bisa diarahkan kepada satu pihak tertentu.

Namun, tambah dia, karena kondisi tersebut mengganggu kenyamanan pengunjung dan masyarakat yang melintas, maka penanganannya menjadi tanggung jawab bersama pelaku kuliner.

“Karena itu mengganggu kenyamanan pengunjung kuliner dan masyarakat yang lewat, jadi wajib menjadi urusan pelaku kuliner yang hidupnya dari bisnis di tempat itu,” tegas Theresia.

Selama ini, kata Theresia, kegiatan kebersihan di kawasan Kampung Ujung rutin dilakukan bersama dinas terkait, termasuk melibatkan Damkar dan Satpol PP.

“Selama ini pelaku usaha di sana rutin dilakukan bersih bersama dinas, dengan Damkar dan Pol PP, cuma musim hujan,” ujarnya.

Musim hujan disebut menjadi salah satu faktor utama yang mempercepat penumpukan lumpur dan pasir di saluran drainase.

Terkait sumber dana perbaikan booth, meja, kursi, dan fasilitas lainnya, Theresia menegaskan bahwa sejak awal tidak ada anggaran khusus dari pemerintah daerah.

“Dari awal penempatan dinas tidak ada anggaran khusus. Pembiayaan semua dari pelaku yang urus sendiri,” katanya.**