Situasi tampak normal, tanpa tanda-tanda konflik. Namun, ketenangan itu hanya berlangsung singkat.

Tak lama kemudian, rombongan konvoi sepeda motor lain datang dari arah Pacar, diketahui berasal dari Kampung Kaung. Di antara rombongan tersebut, Chandra mengenali seorang rekannya bernama Engki.

Suasana awal justru terlihat akrab—mereka saling menyapa, berjabat tangan, bahkan saling mengucapkan selamat tahun baru.

Tanpa diduga, suasana berubah drastis. Salah satu anggota rombongan tiba-tiba mendorong Chandra secara agresif. Chandra mengaku tidak melakukan perlawanan karena mengira pelaku dalam kondisi mabuk.

Emanuel berusaha melerai, berharap ketegangan mereda. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Situasi semakin panas dan tak terkendali.

“Tiba-tiba mereka mengeluarkan parang dan senapan. Kami kaget, lalu mereka teriak ‘tembak-tembak’,” ungkap Chandra dalam keterangannya kepada media, Senin (12/1/2026).

Melihat senjata tajam dan senapan yang dikeluarkan, Emanuel berlari menyelamatkan diri ke dalam rumah. Di saat itulah suara tembakan terdengar. Beberapa saat kemudian diketahui, Emanuel tertembak di bagian leher.