LABUANBAJOVOICE.COM – Labuan Bajo, destinasi wisata premium di Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali mendapat sorotan dari wisatawan mancanegara. Caroline, seorang turis asal Inggris, menyampaikan keluhannya terkait sulitnya mencari tempat parkir saat berkunjung ke kawasan pusat kuliner dan restoran di Jalan Soekarno-Hatta, Manggarai Barat.
Kesulitan ini disebut sebagai dampak dari kebijakan penertiban kendaraan di sepanjang jalan utama yang menjadi pusat aktivitas ekonomi dan pariwisata.
Kebijakan tersebut diterapkan oleh Pemerintah Daerah Manggarai Barat bekerja sama dengan pihak kepolisian.
Namun, menurut Caroline, kebijakan ini membawa tantangan baru bagi wisatawan yang mengandalkan kendaraan roda dua untuk menjelajahi Labuan Bajo.
“Kami selalu suka menggunakan motor karena itu cara terbaik untuk menjelajahi pulau. Tapi di sini cukup sulit. Tempat kami menginap jauh, jadi kami harus pakai motor,” ungkap Caroline kepada media di Labuan Bajo, Selasa (15/7/2025).
“Tapi ternyata tidak bisa parkir di sekitar sini, jadi kami harus mencari tempat lain dan berjalan kaki ke sini dalam cuaca yang sangat panas,” tambahnya.
Caroline menilai, keberadaan fasilitas parkir yang memadai sangat penting untuk kenyamanan turis sekaligus mendukung aktivitas ekonomi lokal.
“Kalau kami bisa parkir dekat tempat makan atau tempat wisata, pasti jauh lebih mudah. Bisa makan siang, lalu jalan-jalan lagi. Tapi karena parkirnya sulit, tempat ini jadi agak sepi,” tambahnya.
Labuan Bajo dikenal sebagai salah satu destinasi super prioritas yang menawarkan pengalaman wisata kelas dunia, mulai dari tur Komodo, menyelam, hingga menikmati panorama sunset.
Namun, keluhan seperti yang disampaikan Caroline menunjukkan masih adanya persoalan mendasar dalam pengelolaan infrastruktur kota.
Akses parkir yang terbatas berpotensi mengurangi kenyamanan wisatawan dan berdampak pada menurunnya kunjungan ke restoran, kafe, dan pusat kuliner yang menjadi penggerak ekonomi lokal.
Caroline mengaku, meski menikmati keindahan alam Labuan Bajo dan keramahan warganya, ia berharap pemerintah bisa lebih memperhatikan kebutuhan dasar wisatawan.
“Kami sedang bersenang-senang di sini. Saya sudah ikut tur Komodo dan menyelam. Tempatnya luar biasa indah, orang-orangnya ramah, tapi sangat panas. Kalau akses parkirnya lebih mudah, akan jauh lebih menyenangkan,” ujarnya.
Keluhan ini menjadi sinyal penting bagi pengelola pariwisata dan pemerintah daerah. Infrastruktur dasar seperti fasilitas parkir, jalur pedestrian yang nyaman, dan transportasi ramah wisatawan harus mendapat perhatian serius demi mempertahankan citra Labuan Bajo sebagai destinasi unggulan.
Tanpa perbaikan, pengalaman wisata yang kurang nyaman dapat memengaruhi kepuasan turis dan potensi promosi dari mulut ke mulut, yang selama ini menjadi kekuatan pariwisata NTT.
Labuan Bajo memang memesona, tetapi kenyamanan wisatawan adalah kunci agar pesona ini tidak hanya indah di mata, melainkan juga di hati para pengunjung.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan