Stefanus menegaskan posisi strategis Warloka sebagai desa pesisir yang mengelilingi Taman Nasional Komodo.

“Desa ini penyangga utama TNK. Wisatawan lewat laut tapi mereka harus melihat kehidupan pesisir. Jangan hanya nonton pembangunan, tapi siapkan diri jadi tuan rumah,” ujarnya.

Ia juga menyinggung dukungan pemerintah pusat yang telah mengalokasikan Rp20 miliar untuk fasilitas pendukung desa wisata.

“Jangan hanya menonton. Pembangunan harus dijawab dengan semangat,” tegasnya.

Kepada Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), Stefanus memberikan pesan khusus agar menjadi motor penggerak, mulai dari penyusunan paket wisata, penyambutan tamu, hingga publikasi digital.

“Proses menjemput tamu tadi sangat bagus. Itu bisa dipraktikkan untuk wisatawan asing. Mereka suka hal-hal seperti itu,” katanya.

Ia juga mendorong pemuda untuk terus berkolaborasi dengan Poltek Labuan Bajo dan berbagai mitra pengembangan desa.

Ia menegaskan bahwa pariwisata Manggarai Barat tidak boleh terus bergantung pada laut dan Taman Nasional Komodo. Peluncuran Desa Wisata Warloka adalah langkah menuju diversifikasi ekonomi wisata yang lebih inklusif.