“85 persen wisatawan yang datang ke Manggarai Barat selama ini langsung menuju Taman Nasional Komodo. Desa-desa penyangga hanya menonton dari kejauhan tanpa sentuhan ekonomi yang berarti,” tegas Stefanus.

Ia menambahkan bahwa lahirnya FASMADEWI adalah jawaban atas ketimpangan tersebut.

“Kalau uang wisatawan hanya berputar di laut, apa kabar masyarakat di darat? Karena itu desa wisata harus ditata. Itulah cikal bakal lahirnya program inovasi FASMADEWI,” ujarnya.

Dalam tiga tahun terakhir, FASMADEWI telah berjalan di enam desa wisata dengan sembilan jenis pelatihan di setiap desa. Namun Stefanus menegaskan bahwa tujuannya bukan membangun monumen wisata, melainkan membentuk pola pikir baru masyarakat.

“Hampir 100 persen program ini bicara mindset. Kita siapkan spot, tapi juga kapasitas manusia yang mengelolanya. Kemajuan desa wisata itu harus tumbuh dari bawah,” katanya.

Ia memberikan apresiasi kepada para fasilitator yang selama 10 bulan tinggal bersama masyarakat. Beberapa desa bahkan telah menunjukkan kemandirian, salah satunya Desa Cunca Lolos yang disebut sebagai salah satu contoh sukses.