LABUANBAJOVOICE.COM – Sebuah truk mixer atau molen bernomor polisi B 9739 H terbengkalai dan terparkir permanen di ruas utama Jalur Trans Flores, tepatnya di Cabang Langgo, Desa Wisata Wae Lolos, Kecamatan Sano Nggoang, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.
Kendaraan besar tersebut telah berada di lokasi selama enam tahun dan kini menjadi ancaman serius bagi keselamatan pengguna jalan.
Keberadaan truk berkarat itu memakan sebagian badan jalan pada jalur strategis yang menghubungkan Labuan Bajo dan Ruteng, dua simpul utama mobilitas masyarakat serta sektor pariwisata di Flores Barat.
Arus kendaraan di ruas tersebut berlangsung hampir tanpa henti, mulai dari kendaraan pribadi, angkutan umum, hingga bus pariwisata.
Situasi menjadi semakin berbahaya pada jam-jam tertentu, terutama sore hingga malam hari.
Kawasan puncak Langgo kerap diselimuti kabut tebal dengan penerangan jalan yang minim.
Posisi truk yang menjorok ke badan jalan mempersempit jarak pandang pengendara dan meningkatkan risiko kecelakaan.
Kasat Lantas Polres Manggarai Barat (Mabar), AKP I Made Supartha Purnama, menegaskan pihak kepolisian telah menelusuri kepemilikan kendaraan tersebut namun belum menemukan pihak yang bertanggung jawab.
“Kendaraan yang terparkir tersebut merupakan truk ready mix (truk molen) berpelat nomor luar daerah.” ujar AKP Supartha, Rabu (4/2/2026).
Ia mengaku, bahwa pihaknya sudah melakukan penelusuran terkait kepemilikan kendaraan itu, namun sampai saat ini belum ada pihak yang mengakui.
“Karena itu, kami akan berkoordinasi dengan instansi terkait, khususnya Dinas Pekerjaan Umum, untuk melakukan penanganan berupa pemindahan kendaraan ke lokasi yang lebih aman agar tidak mengganggu pengguna jalan,” ujarnya.
Ia menegaskan keberadaan kendaraan berat yang terbengkalai di badan jalan berpotensi menimbulkan kecelakaan lalu lintas, terlebih pada jalur rawan seperti kawasan Langgo yang memiliki tingkat visibilitas rendah.
“Kami mengimbau seluruh pengguna jalan, baik pengendara roda dua, roda empat maupun kendaraan besar yang melintasi Jalur Trans Flores, agar meningkatkan kewaspadaan.” kata AKP Supartha.
“Perhatikan kondisi cuaca, situasi jalan, serta kurangi kecepatan terutama saat melintasi titik-titik rawan kecelakaan,” tambahnya.
Warga setempat, Robert Perkasa, mengungkapkan truk tersebut telah lama menjadi kekhawatiran masyarakat sekitar.
“Truk ini sudah lama sekali di sini. Kondisinya makin rusak dan jelas berbahaya,” kata Robert Perkasa, Selasa (3/2/2026).
Menurut Robert, lokasi truk berada di kawasan desa wisata yang setiap hari dilintasi wisatawan mancanegara, domestik, maupun lokal. Jalur ini menjadi akses utama menuju sejumlah destinasi wisata alam di Kecamatan Sano Nggoang.
“Wae Lolos dikenal sebagai desa wisata. Setiap hari tamu lewat jalur ini. Keberadaan truk rongsokan ini mengganggu keselamatan sekaligus merusak wajah destinasi,” ujarnya.
Selain mempersempit badan jalan, keberadaan truk molen itu turut menghambat kelancaran arus lalu lintas. Saat kendaraan besar berpapasan, pengendara harus bergantian melintas dengan ruang gerak yang sangat terbatas.
Pemerintah Kecamatan Sano Nggoang sebelumnya telah mengirimkan surat permohonan evakuasi kepada Dinas Pekerjaan Umum dan Dinas Perhubungan Kabupaten Manggarai Barat.
Surat tersebut berisi permintaan penanganan terhadap kendaraan terbengkalai yang dinilai membahayakan pengguna jalan.
Namun hingga kini, kendaraan tersebut masih berada di lokasi tanpa tanda-tanda penanganan ataupun pengamanan.
Masyarakat Desa Wae Lolos mendesak pemerintah segera mengambil langkah konkret.
Jalur Trans Flores dinilai sebagai urat nadi transportasi Pulau Flores yang menjadi satu-satunya akses darat utama penghubung wilayah barat dan tengah pulau.
“Kalau dibiarkan terus, risikonya besar. Kami khawatir suatu saat akan terjadi kecelakaan,” pungkas warga.
Jika tidak segera ditangani, keberadaan truk terbengkalai tersebut berpotensi memperbesar risiko kecelakaan lalu lintas sekaligus merusak citra pariwisata Manggarai Barat yang tengah berkembang pesat.
Koordinasi lintas instansi menjadi kunci untuk menuntaskan persoalan yang telah berlarut selama enam tahun ini.
Langkah evakuasi tidak hanya menjadi solusi keselamatan pengguna jalan, tetapi juga bagian dari upaya menjaga kualitas infrastruktur pendukung pariwisata yang menjadi tulang punggung ekonomi daerah.**





Tinggalkan Balasan