“Setelah kami mediasi, pihak agen bersedia memberikan kapal pengganti untuk melanjutkan perjalanan para tamu. Kami memastikan mereka mendapatkan hak perjalanannya kembali,” ungkapnya.
Sebagai solusi percepatan, wisatawan langsung diberangkatkan menggunakan speedboat menuju Manta Point, lokasi kapal pengganti berlabuh.
Meski persoalan berakhir damai, kejadian ini menjadi sorotan serius bagi industri pariwisata Labuan Bajo.
Keterlambatan informasi dan buruknya komunikasi dinilai dapat merusak citra destinasi super prioritas yang tengah dikembangkan pemerintah.
IPTU Abnel menegaskan pentingnya profesionalisme dan transparansi dari pelaku usaha wisata.
“Harus ada informasi yang proaktif kepada wisatawan jika ada perubahan rute atau pergantian kapal. Jangan sampai tamu menunggu tanpa kepastian yang justru merusak citra pariwisata kita,” tegasnya.
Peristiwa ini menjadi peringatan keras bahwa pelayanan wisata tidak hanya soal destinasi, tetapi juga kepercayaan. Ke depan, pengawasan terhadap agen perjalanan dan standar pelayanan dinilai perlu diperketat agar kejadian serupa tidak terulang.**






Tinggalkan Balasan