“Sebenarnya bisa menjadi alternatif buat tetap di Flores tapi bisa lihat komodo juga,” tambahnya.

Meski berpotensi menjadi daya tarik wisata, Aji mengakui keberadaan komodo di kawasan Golo Mori tidak dapat dipastikan karena pergerakannya bersifat alami.

“Hanya masalahnya kan susah ditebak akan nongol apa gak, sama sebelah mana kalo nongol,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut menuntut kesiapan pengelola dalam menerapkan standar keamanan yang ketat, baik bagi wisatawan maupun satwa liar itu sendiri.

Pengelola kawasan Golo Mori, lanjut Aji, berkomitmen menyiapkan berbagai langkah mitigasi guna memastikan aktivitas wisata tetap aman, nyaman, serta tidak mengganggu habitat alami komodo dan satwa liar lainnya.

“Tapi nanti kami akan konsultasi lebih lanjut dengan para ahli nya, apakah itu dari BKSDA, TNK atau penduduk sekitar juga yang lebih paham pastinya,” tambahnya.

Koordinasi dengan lembaga konservasi, otoritas Taman Nasional Komodo, serta masyarakat lokal dinilai menjadi strategi penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem sekaligus mendukung pengembangan wisata berbasis konservasi di Manggarai Barat.**