LABUANBAJOVOICE.COM — Rapat Umum Anggota Cabang (RUAC) Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Yogyakarta yang digelar pada Kamis, 29 Januari 2026 resmi menetapkan Decky Kevin Pradekta sebagai Ketua Presidium yang baru.
Forum tertinggi organisasi di tingkat cabang ini sekaligus menandai berakhirnya masa kepemimpinan Egidius Ronikung sebagai Ketua Presidium periode sebelumnya.
RUAC dilaksanakan dan dituntaskan dalam satu hari penuh, namun tetap berjalan sesuai mekanisme organisasi dan konstitusi PMKRI.
Forum ini menjadi ruang evaluasi, pertanggungjawaban kepemimpinan, serta penentuan arah gerak organisasi ke depan.
Ketua Presidium demisioner, Egidius Ronikung, menegaskan bahwa RUAC merupakan momentum penting untuk memastikan keberlanjutan organisasi tetap berada pada jalur nilai perjuangan PMKRI.
“RUAC bukan hanya soal pergantian struktur kepemimpinan, tetapi ruang refleksi bersama untuk melihat kembali apa yang sudah dikerjakan dan apa yang harus diperbaiki. Kepemimpinan itu sementara, tetapi tanggung jawab moral terhadap organisasi bersifat berkelanjutan,” ujar Egidius, Sabtu (31/1).
Ia juga menekankan bahwa seluruh dinamika yang terjadi selama satu periode kepemimpinan harus dibaca sebagai proses pendewasaan organisasi, bukan sekadar perbedaan pandangan.
“Setiap periode memiliki tantangannya sendiri. Apa yang telah dilalui menjadi catatan bersama, bukan untuk saling menyalahkan, tetapi untuk memastikan PMKRI terus bertumbuh,” tambahnya.
Sementara itu, Decky Kevin Pradekta yang terpilih sebagai Ketua Presidium baru menyatakan bahwa amanah tersebut merupakan tanggung jawab kolektif, bukan semata-mata jabatan struktural.
“Kepemimpinan di PMKRI bukan soal posisi, melainkan soal kemampuan merawat kebersamaan, mengelola perbedaan, dan menjaga organisasi tetap berjalan sesuai nilai dasar perjuangan,” kata Decky usai penetapan hasil RUAC.
Menurutnya, tantangan ke depan menuntut kepemimpinan yang terbuka, komunikatif, serta peka terhadap dinamika internal kader maupun persoalan sosial yang berkembang di masyarakat.
“PMKRI Cabang Yogyakarta harus tetap relevan dengan zaman. Itu berarti memperkuat kaderisasi internal sekaligus hadir menjawab persoalan sosial secara nyata,” tegasnya.
RUAC sebagai forum tertinggi cabang tidak dimaknai sebatas agenda seremonial.
Meski dilaksanakan dalam waktu singkat, forum ini menunjukkan bahwa kualitas organisasi tidak diukur dari lamanya persidangan, melainkan dari kedewasaan kader dalam menjalankan mekanisme organisasi secara sadar dan bertanggung jawab.
Momentum pasca-RUAC diharapkan menjadi titik konsolidasi seluruh kader PMKRI Cabang Yogyakarta.
Pergantian kepemimpinan tidak boleh berhenti pada euforia, tetapi harus diterjemahkan dalam kerja-kerja konkret organisasi, baik di bidang kaderisasi, advokasi sosial, maupun penguatan intelektual kader.
PMKRI Cabang Yogyakarta merupakan rumah bersama yang dibangun melalui proses panjang dan pengabdian lintas generasi.
Kepemimpinan boleh berganti dan struktur dapat berubah, namun semangat kolektif serta tanggung jawab moral sebagai organisasi kader harus tetap dijaga.
Pergantian kepemimpinan ini diharapkan menjadi awal yang baik untuk memperkuat organisasi, merawat kader secara berkelanjutan, dan memastikan PMKRI Cabang Yogyakarta tetap sehat, bernilai, serta adaptif dalam menghadapi dinamika zaman ke depan.**

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan