Tokoh masyarakat Nampar Macing, Theodorus Usu, menyampaikan sejumlah persoalan mendasar yang dihadapi warga, khususnya di dusun-dusun terpencil.
“Akses kendaraan roda empat dan roda dua sangat sulit, terutama ke Dusun Tado. Selain itu, ada sekolah yang sangat membutuhkan listrik, tapi belum terjangkau jaringan PLN,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti persoalan Pustu yang telah dinaikkan statusnya menjadi Puskesmas, namun belum didukung tenaga medis dan fasilitas yang memadai.
“Bangunannya sudah ada, tapi dokter, alat kesehatan dan obat-obatan serta fasilitas lainnya belum tersedia,” ujarnya.
Menanggapi aspirasi tersebut, terkait layanan kesehatan, Hasanudin menegaskan akan membawa persoalan Puskesmas ke rapat Paripurna dan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Manggarai Barat.
“Tidak ada artinya bangun Pustu atau Puskesmas kalau tidak ada dokter dan obat-obatan. Ini soal kemanusiaan,” tegasnya.
Reses ini menegaskan bahwa di tengah keterbatasan fiskal dan efisiensi anggaran nasional, desa-desa di Manggarai Barat masih menghadapi persoalan mendasar yang menuntut keberpihakan kebijakan, pengawalan politik, dan keberanian menyuarakan kepentingan rakyat secara berkelanjutan.**





Tinggalkan Balasan