LABUANBAJOVOICE.COM – Bupati Edistasius Endi secara resmi meluncurkan Aplikasi Lumbung MBG dan Natas Harga sebagai instrumen penguatan petani dan pengendalian harga pangan di Manggarai Barat.

Peluncuran aplikasi tersebut berlangsung dalam Forum Konsultasi Publik Rancangan Awal RKPD 2027 di Aula Kantor Bupati, Kamis (12/02/2026).

Aplikasi ini dirancang sebagai solusi rantai pasok Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sekaligus sistem pengendalian harga yang berorientasi pada perlindungan petani lokal.

Pemerintah daerah (Pemda) menilai digitalisasi ini menjadi langkah strategis memperkuat ekosistem pertanian berbasis data akurat dan terintegrasi.

Bupati Endi menegaskan bahwa kehadiran aplikasi tersebut bukan sekadar inovasi teknologi, tetapi merupakan instrumen strategis untuk memutus rantai kemiskinan petani.

“Harapannya tidak hanya berhenti di mimpi, tapi bagaimana kita menjabarkan dari aplikasi ini untuk merumuskan kebijakan kita ke depan,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya validitas data dalam pengoperasian aplikasi tersebut. Menurutnya, sistem digital akan kehilangan fungsi apabila diisi data yang tidak akurat.

“Termasuk hari ini akan kita luncurkan aplikasi soal rantai pasok di dapur MBG. Kalau ini terlaksana secara baik dengan berbagai indikator, orang juga mengisinya tidak asal bapak senang atau suka-suka, maka sebenarnya dari sini juga kita bisa menetapkan kebijakan kita ke depan,” tegasnya.

Bupati juga mengingatkan para operator aplikasi agar menjaga integritas data sehingga sistem tersebut benar-benar memberikan dampak nyata bagi petani.

Ia menilai selama ini sektor primer pertanian mengalami stagnasi bahkan cenderung menurun, sementara pertumbuhan ekonomi daerah masih didominasi sektor jasa.

“Faktor primernya ini tidak hanya jalan di tempat, kecenderungannya turun. Ini tugas kita bagaimana meyakinkan, memberi edukasi, merubah mindset, mendorong para petani ini untuk memanfaatkan berbagai program dari pemerintah,” ungkapnya.

Melalui aplikasi Lumbung MBG dan Natas Harga, pemerintah dapat memantau secara real-time distribusi hasil pertanian desa yang terserap ke dapur MBG. Sistem ini diharapkan mampu memastikan kesinambungan pasar bagi petani.

“Karena nanti akan tergambar: oh, sayur yang terserap di semua dapur itu dari petani kelompok tani Desa B. Maka sudah bisa dihitung nanti hasil akhirnya itu pemanfaatan dari dapur MBG untuk para petani sayur, beras dan lain sebagainya sangat baik,” paparnya.

Bupati Endi menegaskan program MBG harus mampu mendorong petani untuk meningkatkan produksi hortikultura. Pemerintah, kata dia, ingin memastikan komoditas yang ditanam petani memiliki kepastian pasar.

“Terkait dengan dapur MBG, itu harus meyakinkan para petani untuk tanam, tanam, dan tanam. Maksudnya itu ya holtikultura, jangan tanam yang lain,” katanya.

Selain itu, Bupati turut menyoroti masih rendahnya pemanfaatan Kredit Usaha Rakyat (KUR) di kalangan petani. Ia meminta perangkat daerah terkait untuk meningkatkan sosialisasi akses pembiayaan.

“Tolong sampaikan ini kepada seluruh masyarakat. Kalau ini dimanfaatkan secara maksimal, maka tidak ada lagi cerita orang tidak bercocok tanam karena kehabisan modal,” tegasnya.

Ia menambahkan, aplikasi tersebut merupakan bagian dari strategi besar pembangunan daerah berbasis data terintegrasi. Pemerintah menargetkan dalam tiga tahun ke depan Manggarai Barat mampu keluar dari kategori daerah miskin di Nusa Tenggara Timur.

“Kalau kita sudah menyiapkan data yang satu dan sama, lalu kita kerja kolaborasi, meninggalkan keegoan, saya yakin seyakin-yakinnya, 3 tahun ke depan kita mendeklarasikan bahwa kita kabupaten pertama yang keluar dari kategori miskin yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur,” pungkasnya.

Peluncuran aplikasi ditandai dengan pemukulan gong oleh Bupati Manggarai Barat. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi dari Kepala Bappeda dan Kepala BPS Manggarai Barat terkait perencanaan pembangunan berbasis data.**