LABUANBAJOVOICE.COM – Warga Muslim Palis, Desa Nanggalili, Kecamatan Lembor Selatan, Kabupaten Manggarai Barat, NTT, menggelar pawai obor menyambut datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi.

Tradisi tahunan ini berlangsung khidmat dan penuh antusiasme sebagai simbol sukacita menyongsong bulan penuh ampunan.

Pawai dimulai dari Masjid Al Muttaqin Palis menuju Wae Ara dan kembali lagi ke masjid sebagai titik akhir.

Anak-anak, remaja hingga orang dewasa berjalan beriringan sambil membawa obor yang menyala, menerangi jalur kampung pada malam hari.

Momen tersebut diabadikan oleh Mesi Candra. Dalam keterangannya kepada media, ia menggambarkan suasana kebersamaan yang terasa kuat di tengah masyarakat.

“Terlihat masyarakat setempat memegang obor masing-masing sambil jalan berbondong-bondong dari Masjid Al Muttaqin Palis menuju Wae Ara dan kembali ke Masjid,” ujar Mesi.

Ia juga menambahkan bahwa tradisi ini menjadi bagian dari identitas religius warga Palis setiap menjelang Ramadan.

“Pawai obor ini sudah menjadi tradisi kami setiap tahun. Ini bentuk kegembiraan sekaligus persiapan hati menyambut bulan suci Ramadhan,” kata Mesi.

Sementara itu, pemerintah secara resmi menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Keputusan tersebut diambil melalui sidang isbat yang digelar di Hotel Borobudur Jakarta, Selasa (17/2/2026).

Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, mengumumkan hasil sidang tersebut dalam konferensi pers.

“Sidang isbat telah selesai dilaksanakan. Awal Ramadhan 1447 H jatuh pada hari Kamis 19 Februari 2026,” ujar Nasaruddin Umar.

Sidang isbat dihadiri sejumlah lembaga dan unsur masyarakat, di antaranya Komisi VIII DPR RI, Majelis Ulama Indonesia, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Badan Riset dan Inovasi Nasional, serta perwakilan ormas Islam dan pesantren.

Keterlibatan banyak pihak ini menunjukkan bahwa penetapan awal Ramadan dilakukan secara kolektif dan berbasis kajian ilmiah melalui metode hisab dan rukyat.

Penetapan pemerintah tersebut berbeda dengan keputusan PP Muhammadiyah yang menetapkan 1 Ramadan 1447 H pada 18 Februari 2026.

Muhammadiyah menggunakan sistem Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) dengan prinsip satu hari satu tanggal di seluruh dunia, berbasis hisab murni yang telah ditentukan sebelumnya.
Perbedaan awal Ramadan ini muncul dari perbedaan metodologi.

Walaupun sama-sama bersandar pada perhitungan astronomi, kerangka fikih dan sistem penetapannya berbeda.

Di Palis, perbedaan penetapan awal Ramadan tidak mengurangi semangat kebersamaan warga. Pawai obor menjadi simbol bahwa substansi Ramadan terletak pada kesiapan spiritual dan persatuan umat.

Ke depan, masyarakat berharap tradisi religius seperti ini terus dilestarikan sebagai penguat nilai-nilai toleransi, moderasi beragama, serta harmoni sosial di Manggarai Barat.**