Dalam kesempatan lain, Menag juga menekankan bahwa Isra Miraj harus dijadikan momentum untuk memperkuat kesalehan sosial dan kepedulian terhadap lingkungan.
“Shalat yang dilaksanakan dengan penghayatan dan pemahaman yang benar akan melahirkan pribadi yang berkesadaran tinggi, memiliki kepekaan sosial, serta kepedulian terhadap lingkungan,” tegas Nasaruddin dalam keterangan tertulis yang diterima media, dikutip dari NU Online.
Dari perspektif ulama, peristiwa Isra Miraj juga memiliki kedalaman makna dalam pengokohan akidah. KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha), seorang ulama dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), mengingatkan umat Islam agar tidak salah memahami inti peristiwa ini dalam konteks tauhid.
“Umat tidak boleh punya keyakinan bahwa Allah mengevaluasi ulang kewajiban shalat setelah melihat Nabi. Allah Maha Mengetahui sejak awal tanpa perlu evaluasi,” jelas Gus Baha menjelaskan pemahaman yang benar tentang Isra Miraj.
Peringatan Isra Miraj tahun ini diharapkan tidak hanya diperingati sebagai hari besar keagamaan, tetapi juga sebagai momentum refleksi agar umat Islam memperbaiki kualitas ibadah dan memperluas dampak positifnya terhadap kehidupan sosial, budaya, dan lingkungan. **





Tinggalkan Balasan