Ke depan, kata dia, skema asuransi pariwisata dirancang terintegrasi langsung dengan tiket masuk destinasi atau paket wisata melalui mekanisme kerja sama kolektif. Model ini dinilai lebih efisien dan tidak membebani wisatawan secara signifikan.

“Keuntungannya meliputi perlindungan bagi wisatawan dari biaya medis, pengurangan risiko hukum, beban anggaran daerah, serta peningkatan standar keselamatan,” tegas Stefanus.

Meski demikian, ia juga mengungkap sejumlah tantangan utama dalam implementasi asuransi pariwisata, terutama rendahnya pemahaman masyarakat dan pelaku usaha terkait manfaat asuransi, persepsi mahalnya premi, serta prosedur klaim yang dinilai rumit.

“Usulan solusinya adalah sosialisasi yang berkelanjutan, skema premi yang terjangkau, prosedur yang lebih sederhana, serta dukungan regulasi dari pemerintah daerah,” tambahnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT Jasaraharja Putera, Abdul Haris, menegaskan bahwa asuransi pariwisata tidak hanya berfungsi sebagai instrumen perlindungan finansial, tetapi juga bagian penting dari sistem manajemen risiko industri pariwisata modern.