“Setelah kami mediasi, pihak agen bersedia memberikan kapal pengganti untuk melanjutkan perjalanan para tamu. Kami memastikan mereka mendapatkan hak perjalanannya kembali,” ungkapnya.
Sebagai langkah percepatan, ketiga wisatawan langsung diberangkatkan menggunakan speedboat menuju Manta Point, lokasi kapal pengganti berlabuh.
Meski akhirnya terselesaikan, insiden ini menjadi catatan penting bagi tata kelola pariwisata Labuan Bajo. Keterlambatan komunikasi dan minimnya tanggung jawab layanan dinilai berpotensi merusak citra destinasi.
“Harus ada informasi yang proaktif kepada wisatawan jika ada perubahan rute atau pergantian kapal. Jangan sampai tamu menunggu tanpa kepastian yang justru merusak citra pariwisata kita,” tegas IPTU Abnel.
Kejadian ini menjadi pengingat bahwa kepercayaan wisatawan merupakan aset utama.
Ke depan, penguatan standar pelayanan dan pengawasan terhadap agen perjalanan menjadi langkah krusial untuk menjaga reputasi Labuan Bajo di mata dunia.**






Tinggalkan Balasan