LABUANBAJOVOICE.COM – Upaya memperkuat ketahanan pangan dan memastikan keberlanjutan pasokan protein hewani untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Manggarai Barat memasuki babak baru.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Kabupaten Manggarai Barat, Fatinci Raynilda, menegaskan bahwa bantuan 30 unit ketinting baru bagi tiga Kelompok Usaha Bersama (KUB) nelayan harus menjadi motor penggerak suplai ikan, terutama tuna, ke dapur MBG.

Fatinci berharap kebijakan ini tidak hanya meningkatkan kemampuan nelayan menangkap ikan, tetapi juga menciptakan rantai suplai yang stabil untuk kebutuhan protein hewani masyarakat, khususnya anak-anak penerima program MBG.

“Kemudian hasil tangkapan ini juga bisa bersinergi dengan mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG),” ujar Fatinci usai penyerahan bantuan 30 ketinting di Pantai Pede, Rabu (10/12/2025).

Bantuan diberikan kepada KUB Desa Komodo, Papagarang, dan Pontianak sebagai bagian dari strategi memperkuat sektor perikanan tangkap sekaligus menghidupkan ekosistem ekonomi desa.

Menurut Fatinci, program ini juga selaras dengan visi nasional Presiden Prabowo Subianto terkait penyediaan makanan bergizi bagi anak sekolah.

Di level desa, penguatan rantai produksi ikan diharapkan memberi energi baru bagi Koperasi Desa Merah Putih, yang telah terbentuk di berbagai desa nelayan.

Ia menjelaskan bahwa kebutuhan ikan, khususnya tuna, di dapur MBG begitu besar, namun selama ini pasokannya belum stabil.

“Jadi dalam program MBG itu ada menu yang berasal dari protein hewan dalam hal ini ikan. Para nelayan itu dengan ukuran ketinting yang agak lebih besar mereka mampu menangkap ikan tuna,” tegasnya.

Menurutnya, menu MBG selama ini lebih banyak bergantung pada ayam dan telur, sementara ketersediaan ikan tuna sangat terbatas.

“Betul sekali. Jadi kebutuhan protein lebih banyak berasal dari telur dan daging ayam, sedangkan untuk ikan karena ikan tunanya terbatas.” jelasnya.

Fatinci menegaskan bahwa ketergantungan pada suplai ayam dan telur dari luar daerah sangat tinggi, sehingga penguatan produksi ikan lokal adalah solusi paling realistis dan berkelanjutan.

Fatinci menyebutkan bahwa ketinting tahun ini berukuran lebih besar dibanding bantuan tahun-tahun sebelumnya.

Tujuannya agar nelayan dapat beroperasi lebih jauh dari garis pantai, menghindari zona pariwisata, dan memperoleh hasil tangkapan lebih banyak.

“Harapannya, nelayan itu bisa menangkap ikan yang agak jauh dari wilayah desa tidak masuk ke dalam zona pariwisata. Hasil tangkapannya semakin banyak dan mampu meningkatkan ekonomi keluarga.” ujarnya.

Bantuan 30 unit ketinting ini bersumber dari Dana Alokasi Umum Specific Grant (DAU-SG) 2025.

Sebelumnya, pada November 2025, DKPP telah menyalurkan 40 unit ketinting untuk lima KUB. Dengan demikian, total bantuan tahun 2025 telah mencapai 70 unit.

Fatinci juga menginformasikan bahwa besok, Kamis 11 Desember 2025, akan dilakukan penyerahan mesin diesel untuk ketinting, tanpa kapal.

Spesifikasi ketinting: Mesin Honda PK 6,5, panjang: 7 meter, lebar: 1,20 meter, tinggi: 0,60 meter.

Kebijakan ini menjadi sinyal kuat bahwa Manggarai Barat tengah melakukan shift strategis menuju ketahanan pangan berbasis sumber daya laut, memanfaatkan potensi perikanan sebagai sumber protein lokal paling berkelanjutan.

Dengan meningkatnya kapasitas nelayan, pemerintah berharap dapur MBG tidak lagi mengalami kekurangan ikan, sekaligus membuka peluang peningkatan ekonomi keluarga nelayan.**