Yang paling merasakan tekanan tentu saja masyarakat kecil. Bagi sebagian keluarga, LPG bukan sekadar komoditas energi, melainkan kebutuhan dasar untuk memasak setiap hari.

Ketika gas menjadi langka atau mahal, konsekuensinya tidak hanya pada dapur rumah tangga, tetapi juga pada usaha kecil seperti warung makan, pedagang kaki lima, dan pelaku usaha mikro lainnya.

Situasi ini seharusnya menjadi pengingat bahwa sistem energi daerah masih sangat rentan. Ketergantungan yang besar pada pasokan energi dari luar wilayah membuat daerah seperti Nusa Tenggara Timur sangat mudah terdampak ketika terjadi gangguan distribusi.

Padahal, jika melihat potensi yang dimiliki, NTT bukanlah daerah yang miskin sumber energi. Wilayah ini memiliki intensitas sinar matahari yang tinggi hampir sepanjang tahun, potensi biomassa dari sektor pertanian dan peternakan, serta sumber daya alam yang memungkinkan pengembangan energi terbarukan dalam berbagai bentuk.

Ironisnya, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung kebutuhan energi masyarakat sehari-hari, terutama pada sektor rumah tangga dan usaha kecil.