Ia menilai, partisipasi aktif pemuda dalam pengawasan pemilu bukan hanya pilihan, tetapi kebutuhan mendesak untuk mencegah praktik-praktik destruktif seperti politik uang, politisasi identitas, dan penggunaan tempat ibadah sebagai arena kampanye.
“Kader Ansor harus menjadi teladan dalam menjaga etika politik dan menolak segala bentuk politik uang serta penyalahgunaan tempat ibadah untuk kampanye. Ini bagian dari jihad kebangsaan kita,” tegasnya.
Menurutnya, GP Ansor Manggarai Timur menyatakan komitmennya menjalin kerja sama berkelanjutan dengan Bawaslu Kabupaten Manggarai Timur serta berbagai organisasi kepemudaan lainnya.
Fokus utama kolaborasi ini adalah meningkatkan literasi kepemiluan, terutama di kalangan pemilih muda dan masyarakat akar rumput yang rentan terpengaruh disinformasi.
Program-program pelatihan, dialog publik, dan pendampingan pemilih muda disebut akan terus diperkuat untuk menciptakan ekosistem demokrasi yang lebih inklusif dan sadar hukum.
Dikatakan Edy, pemilu seharusnya tidak dilihat sebagai ritual politik yang berlangsung setiap lima tahun semata, melainkan sebagai proses pembelajaran kolektif bagi rakyat.






Tinggalkan Balasan