Ia melihat keberagaman sebagai kekuatan sosial yang telah lama mengakar dan menjadi identitas masyarakat setempat.

“Kita hidup dalam keberagaman, tetapi kebersamaan adalah pilihan yang harus terus kita rawat. Idulfitri mengingatkan kita bahwa perbedaan bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk dipersatukan,” katanya.

Lebih jauh, ia menyoroti nilai gotong royong yang dinilai semakin penting di tengah dinamika sosial saat ini.

Menurutnya, pembangunan di tingkat kecamatan akan lebih efektif jika didukung oleh partisipasi aktif masyarakat serta kepercayaan yang tumbuh dari interaksi sosial yang sehat.

“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Ketika masyarakat ikut terlibat, saling membantu, dan saling percaya, maka pembangunan akan berjalan lebih kuat dan berkelanjutan,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, Alfonsius juga mengajak masyarakat untuk menjadikan Idulfitri sebagai titik awal memperkuat kepedulian sosial, terutama terhadap kelompok rentan yang masih membutuhkan perhatian bersama.

“Masih ada saudara-saudara kita yang membutuhkan perhatian. Idulfitri adalah pengingat bahwa kebahagiaan sejati juga datang dari kemampuan kita untuk berbagi,” ujarnya.