LABUANBAJOVOICE.COM — Sepanjang tahun 2025, perairan Taman Nasional Komodo (TNK) menjadi saksi meningkatnya arus kunjungan kapal pesiar dan kapal mewah dari berbagai belahan dunia.
Total 88 kapal pesiar (cruise) dan yacht tercatat berlabuh di kawasan strategis pariwisata unggulan Indonesia tersebut, menandai penguatan posisi Labuan Bajo sebagai destinasi wisata kelas dunia.
Kepala Kantor Imigrasi Kelas II TPI Labuan Bajo, Charles Christian Mathaus, mengungkapkan bahwa puluhan kapal tersebut terdiri dari 42 kapal cruise dan 46 kapal yacht, dengan total 48.945 penumpang dan awak kapal yang keluar-masuk wilayah perairan Labuan Bajo sepanjang 2025.
“Sebanyak 88 kapal pesiar (cruise) dan kapal mewah (yatch) dari berbagai negara berlabuh di kawasan perairan Taman Nasional Komodo (TNK) sepanjang tahun 2025. Kapal cruise ada 42 buah dan kapal yacth ada 46 buah. Total penumpang dan kru 48.945 orang,” ujar Charles, Selasa (13/1/2026).
Lonjakan kunjungan kapal asing tersebut menempatkan Kantor Imigrasi Labuan Bajo pada peran strategis sebagai garda depan pelayanan dan pengawasan orang asing.
Charles menegaskan bahwa seluruh penumpang dan awak kapal telah melalui proses pemeriksaan keimigrasian sesuai prosedur yang berlaku.
“Puluhan ribu penumpang dan kru cruise dan yatch itu telah melewati pemeriksaan keimigrasian. Seluruh proses pemeriksaan keimigrasian berjalan dengan aman, tertib, dan lancar, serta tidak ditemukan adanya pelanggaran keimigrasian,” jelasnya.
Ia menambahkan, dari hasil pemeriksaan, seluruh dokumen perjalanan yang digunakan oleh penumpang maupun awak kapal dinyatakan lengkap dan sesuai dengan ketentuan keimigrasian Indonesia.
“Dokumen keimigrasian yang digunakan oleh seluruh penumpang dan awak kapal sesuai ketentuan,” kata Charles.
Menurutnya, peningkatan signifikan jumlah cruise dan yacht yang berlabuh di Labuan Bajo tidak hanya menjadi indikator geliat pariwisata, tetapi juga mencerminkan tingkat kepercayaan internasional terhadap sistem pelayanan dan pengawasan keimigrasian di wilayah tersebut.
“Dari sisi keimigrasian, peningkatan lalu lintas orang asing menunjukkan kepercayaan internasional terhadap sistem pelayanan dan pengawasan keimigrasian di Labuan Bajo,” ujarnya.
Dampak ekonomi dari kunjungan kapal pesiar dan yacht ini juga dirasakan secara langsung oleh masyarakat lokal, khususnya di kawasan Pulau Komodo dan Pulau Rinca.
Kehadiran wisatawan mancanegara mendorong perputaran ekonomi melalui jasa pemandu wisata, transportasi laut, UMKM, hingga sektor perhotelan dan kuliner.
Lebih jauh, Charles menilai tren positif ini menjadi sinyal kuat bahwa Labuan Bajo semakin diperhitungkan di peta pariwisata global.
Promosi destinasi yang berkelanjutan, kata dia, ditopang oleh pelayanan publik yang profesional dan aman, diyakini akan menjaga momentum pertumbuhan tersebut di masa mendatang.
Peningkatan kunjungan cruise dan yacht sepanjang 2025 juga dipandang sebagai fondasi penting bagi pengembangan pariwisata berkelanjutan di Manggarai Barat.
Ke depan, sinergi antara pemerintah, aparat keimigrasian, pengelola kawasan konservasi, dan masyarakat lokal menjadi kunci agar Labuan Bajo tetap kompetitif sekaligus lestari sebagai destinasi wisata premium Indonesia.**

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan