Ia menyebut sekolah dirintis sejak 2001 bersama masyarakat, bahkan sebelum Manggarai Barat menjadi kabupaten definitif.
“Tahun 2001 kami bersama orang tua mengusulkan pendirian sekolah ke Dinas Pendidikan di Ruteng. Waktu itu belum ada Kabupaten Manggarai Barat. Perjuangannya panjang,” tuturnya.
Kegiatan belajar mengajar mulai berlangsung sekitar 2002 sebagai kelas jauh dari sekolah induk, hingga akhirnya pada 2008 resmi berstatus Sekolah Dasar Negeri.
Meski telah berstatus sekolah negeri, berbagai tantangan masih dihadapi, terutama akses jalan sepanjang kurang lebih dua kilometer dari pertigaan menuju kampung dan sekolah yang belum memadai.
“Harapan kami Pemda bisa membantu, baik jalan maupun air minum. Itu kebutuhan mendasar kami,” tegasnya.
Kegiatan sosial AWAMB di Desa Tiwu Nampar menghadirkan potret kontras pembangunan Manggarai Barat.
Di satu sisi, kawasan Labuan Bajo berkembang pesat sebagai destinasi pariwisata premium, namun di sisi lain masih terdapat wilayah yang menghadapi keterbatasan sarana pendidikan dasar.





Tinggalkan Balasan