Stefanus juga menyentil dinamika di lapangan yang kerap menjadi hambatan.

“Jangan sampai pemerintah mau maju sendiri tapi masyarakat tertinggal. Jangan juga masyarakat yang sudah melaju, pemerintah tertidur. Jangan terbalik,” ujarnya.

Namun pesan tersebut membawa penekanan serius: keberhasilan wisata hanya lahir ketika masyarakat menjadi aktor utama, bukan pelengkap.

Pemuda Warloka mendapat perhatian khusus. Stefanus memuji kreativitas kelompok pemuda pesisir yang mulai membuat konten digital, flayer, hingga paket Jelajah Kampung.

“Lihat saja, sudah ada spot yang dijual. Sudah viral. Itu langkah bagus. Pakai HP untuk hal positif. Bangun tidur langsung cek konten desa, bukan cuma scroll hal-hal tidak penting,” ungkapnya.

Ia mengingatkan bahwa wisatawan mancanegara sangat menggemari atraksi budaya. Penampilan prosesi Adat Bajo yang ditampilkan tadi disebut sebagai atraksi bernilai tinggi.

“Ini aset. Jangan hilang hanya karena anak muda terlalu sibuk dengan tiktok dan facebook,” tegasnya.

Tradisi pesisir, tarian, adab penyambutan, dan nilai sopan santun disebutnya sebagai “emas” pariwisata yang tidak boleh hilang.