“Menurut saya sebenarnya iya, hanya memang kita perlu siapkan mitigasimitigasi supaya jangan ada interaksi negatif antara manusia dengan komodo. Hal ini juga yang menjadi perhatian BKSDA,” ujar Aji, Sabtu (7/2/2026).

Ia menjelaskan, Pulau Flores sejak lama termasuk wilayah sebaran alami komodo di luar kawasan TNK. Oleh karena itu, keberadaan satwa tersebut di beberapa wilayah daratan Flores bukan fenomena baru.

“Jadi memang ada monitoring rutin dari BKSDA untuk statistik juga, ada beberapa kali kok seingat saya,” ujarnya.

Monitoring yang dilakukan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) menjadi bagian penting dalam pengawasan populasi komodo di luar kawasan konservasi utama, sekaligus memastikan keseimbangan ekosistem tetap terjaga.

Aji menilai pengembangan wisata satwa di Golo Mori dapat menjadi solusi alternatif ketika aktivitas wisata bahari di kawasan TNK terganggu kondisi cuaca ekstrem seperti angin kencang dan gelombang tinggi yang berpotensi menghambat pelayaran kapal wisata.

“Kaya bulan lalu ada teman saya pas liburan sama istrinya, pingin sekali liat komodo karena belum pernah. Tapi kan pas penutupan jadi gak bisa ke TNK,” ujarnya.