Dengan adanya ketersediaan jagung sebagai bahan baku pakan ternak, masyarakat tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pasokan dari luar daerah.

“Hal ini diyakini dapat menekan biaya produksi peternak sekaligus membuka peluang usaha baru di tingkat desa.” ujarnya.

Program penanaman jagung ini direncanakan akan dilaksanakan di 50 titik di wilayah Dapil II Kabupaten Manggarai Barat, dengan melibatkan kelompok masyarakat sebagai pengelola utama.

Hasil produksi jagung nantinya tidak hanya dijual dalam bentuk bahan mentah, tetapi akan diolah oleh kelompok masyarakat menjadi pakan ternak.

Saat ini, Sardi Jeramat menilai bahwa di wilayah Dapil II belum terdapat pelaku usaha yang secara khusus bergerak di bidang produksi pakan ternak. Kondisi tersebut justru menjadi peluang besar yang perlu dimanfaatkan secara bersama-sama.

“Kondisi ini menjadi peluang besar yang harus dimaksimalkan bersama. Melalui program ini, masyarakat tidak hanya berperan sebagai petani jagung, tetapi juga didorong untuk naik kelas menjadi pelaku usaha pakan ternak berbasis lokal,” tegasnya.