Menurutnya, kebutuhan ideal pengelolaan TNK berada di kisaran Rp60 miliar per tahun. Jika terdapat surplus, dana tersebut dapat diarahkan untuk kerja sama atau pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan.

Perwakilan KSOP Labuan Bajo menyampaikan terdapat 812 kapal yang beroperasi di Labuan Bajo, dengan sekitar 400 kapal berbasis tetap di wilayah tersebut. Pada musim timur, jumlah kapal meningkat karena kedatangan armada dari Raja Ampat.

Sementara itu, Stasiun Meteorologi Komodo mengusulkan penambahan alat observasi cuaca maritim di titik-titik rawan kecelakaan dalam kawasan TNK.

Usulan tersebut telah disampaikan ke BMKG pusat sebagai langkah mitigasi risiko dan peningkatan keselamatan wisata bahari.

Kepala Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF), Andhy MT. Marpaung, mendorong agar promosi tidak hanya terfokus pada wisata bahari.

Ia menekankan pentingnya menjual potensi wisata daratan Flores sebagai alternatif ketika cuaca ekstrem menghambat aktivitas laut. Strategi ini dinilai mampu menjaga stabilitas kunjungan sekaligus memperluas distribusi manfaat ekonomi ke wilayah daratan.