Menurutnya, pelestarian tidak dapat dipisahkan dari pemberdayaan. Badan ini telah menjalankan sejumlah program konkret, antara lain penanaman mangrove di Lenteng, perbaikan pustu dan sekolah di Kerora, serta pembangunan jembatan penghubung Kerora–Wae Rebo.

Selain itu, pihaknya mendorong pelatihan keterampilan bagi masyarakat pesisir bekerja sama dengan Balai Taman Nasional Komodo (BTNK), termasuk dukungan permodalan UMKM, pengelolaan sampah, dan penyediaan air minum bersih.

Langkah tersebut dinilai sebagai pendekatan jangka panjang agar konservasi berjalan seiring peningkatan kesejahteraan warga sekitar kawasan.

Sementara, Kepala BTNK, Hendrikus Rani Siga, memastikan hingga kini tidak ada rencana penutupan kunjungan wisatawan ke TNK.

Ia menyoroti dinamika lalu lintas kapal wisata yang tidak seluruhnya berangkat dari Labuan Bajo.

“Kenapa tidak saya tutup, karena ternyata untuk kapal-kapal wisata dari luar KSOP Labuan Bajo, seperti cruz dari Sape, Bali ada kemungkinan mereka langsung ke kawasan. Kami mau tidak mau tetap melakukan pelayanan,” kata Hendrikus.