IPTU Arsi mengungkapkan bahwa pekerjaan pembangunan hari pertama selesai sekitar pukul 17.00 Wita dalam kondisi aman dan terkendali.
Pekerjaan dilanjutkan pada Selasa, 3 Februari 2026, dengan fokus pada tahap penyelesaian akhir.
“Hari ini kami fokus pada tahap finishing; pemasangan alas pijakan, pembuatan pagar pengaman, hingga pengecatan agar jembatan tidak hanya kokoh, tapi juga layak dipandang,” ungkap Inspektur Polisi Satu tersebut.
Bagi masyarakat Desa Golo Lajang, jembatan darurat ini bukan sekadar konstruksi bambu dan kayu.
Lebih dari itu, jembatan menjadi simbol nyata hadirnya negara dalam menjawab persoalan dasar masyarakat, khususnya akses pendidikan bagi generasi muda di wilayah terpencil Manggarai Barat.
Ke depan, pembangunan infrastruktur sederhana namun vital seperti ini dinilai menjadi fondasi penting dalam memutus kesenjangan akses pendidikan antara wilayah perkotaan dan pedesaan, sekaligus memperkuat rasa kepercayaan masyarakat terhadap negara.**





Tinggalkan Balasan