“Karena nanti akan tergambar: oh, sayur yang terserap di semua dapur itu dari petani kelompok tani Desa B. Maka sudah bisa dihitung nanti hasil akhirnya itu pemanfaatan dari dapur MBG untuk para petani sayur, beras dan lain sebagainya sangat baik,” paparnya.

Bupati Endi menegaskan program MBG harus mampu mendorong petani untuk meningkatkan produksi hortikultura. Pemerintah, kata dia, ingin memastikan komoditas yang ditanam petani memiliki kepastian pasar.

“Terkait dengan dapur MBG, itu harus meyakinkan para petani untuk tanam, tanam, dan tanam. Maksudnya itu ya holtikultura, jangan tanam yang lain,” katanya.

Selain itu, Bupati turut menyoroti masih rendahnya pemanfaatan Kredit Usaha Rakyat (KUR) di kalangan petani. Ia meminta perangkat daerah terkait untuk meningkatkan sosialisasi akses pembiayaan.

“Tolong sampaikan ini kepada seluruh masyarakat. Kalau ini dimanfaatkan secara maksimal, maka tidak ada lagi cerita orang tidak bercocok tanam karena kehabisan modal,” tegasnya.

Ia menambahkan, aplikasi tersebut merupakan bagian dari strategi besar pembangunan daerah berbasis data terintegrasi. Pemerintah menargetkan dalam tiga tahun ke depan Manggarai Barat mampu keluar dari kategori daerah miskin di Nusa Tenggara Timur.