“Jadi memang ada monitoring rutin dari BKSDA untuk statistik juga, ada beberapa kali kok seingat saya,” ujarnya.

Menurut Aji, kemunculan komodo di daratan Flores, khususnya di kawasan Golo Mori, berpotensi menjadi daya tarik wisata baru yang dapat mendukung diversifikasi destinasi pariwisata di Manggarai Barat.

Ia mencontohkan, wisata darat untuk melihat komodo bisa menjadi opsi ketika wisata bahari di kawasan TNK terganggu akibat cuaca ekstrem seperti angin kencang maupun gelombang tinggi yang membuat kapal tidak dapat berlayar.

“Kaya bulan lalu ada teman saya pas liburan sama istrinya, pingin sekali liat komodo karena belum pernah. Tapi kan pas penutupan jadi gak bisa ke TNK,” ujarnya.

“Sebenarnya bisa menjadi alternatif buat tetap di Flores tapi bisa lihat komodo juga,” tambahnya.

Meski berpotensi menjadi daya tarik wisata, Aji menegaskan bahwa keberadaan komodo di kawasan Golo Mori masih sulit diprediksi karena kemunculannya bersifat alami dan tidak menetap di satu lokasi tertentu.

“Hanya masalahnya kan susah ditebak akan nongol apa gak, sama sebelah mana kalo nongol,” ujarnya.