Akibatnya, pembentukan awan hujan di Labuan Bajo terganggu karena uap air justru ditarik menuju pusat siklon.
“Maka hujan di tempat kita menjadi berkurang, apalagi untuk Labuan Bajo. Namun untuk beberapa wilayah Mabar di bagian tengah, timur dan selatan terpantau masih ada hujan,” ungkapnya.
Menurut Maria, kejadian ini dipicu Siklon Tropis FINA yang kini aktif di selatan Pulau Timor. Sistem ini memengaruhi dinamika atmosfer di Nusa Tenggara Timur, membuat sebagian wilayah kekurangan suplai awan hujan.
Selain berkurangnya hujan, faktor astronomis juga memperparah kondisi panas. Maria menjelaskan bahwa garis semu matahari sedang berada di selatan khatulistiwa, sehingga intensitas pemanasan meningkat di wilayah selatan Indonesia, termasuk NTT.
“Selain itu, Labuan Bajo yang berada di wilayah pesisir dan dikelilingi perairan membuat udara terasa lebih gerah, karena kelembaban cenderung tinggi. Gabungan suhu tinggi dan kelembaban inilah yang membuat masyarakat merasakan panas menyengat di siang hari dan tetap terasa hangat bahkan hingga malam,” jelasnya.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan