LABUANBAJOVOICE.COM – Anggota DPRD Kabupaten Manggarai Barat Fraksi Partai Gerindra, Kanisius Jehabut, melaksanakan reses hari pertama Masa Sidang I Tahun 2025/2026 dengan cara yang tidak biasa.

Tanpa aula, tanpa meja dan kursi resmi, reses berlangsung sederhana namun penuh makna, di bawah pohon rindang, di tepi kebun dan hamparan sawah Desa Pantar, Kecamatan Komodo, Sabtu (20/12/2025).

Reses DPRD Manggarai Barat Masa Sidang I Tahun 2025/2026 ini dilaksanakan mulai 19 hingga 24 Desember 2025.

Sebagai anggota DPRD dari Daerah Pemilihan (Dapil) I yang meliputi Kecamatan Komodo, Boleng, Mbeliling, dan Sano Nggoang, Kanisius memilih mendekat langsung ke ruang hidup masyarakat.

Kanisius menegaskan bahwa reses kali ini sengaja tidak digelar di ruang formal.

Ia ingin mendengar suara rakyat tanpa sekat, langsung dari tempat mereka bekerja dan menggantungkan hidup.

Di tanah bernama Tondong Boa dan Sok Rutung, warga menyambut dengan antusias. Bukan karena kemewahan acara, melainkan karena harapan masih mereka titipkan kepada wakil rakyatnya.

“Di sanalah suara rakyat mengalir jujur, tanpa jarak, tanpa sekat. Di bawah rindang pohon, saya kembali belajar bahwa politik yang paling bermakna adalah mendengar,” ungkap Kanisius.

Dalam dialog terbuka tersebut, warga menyampaikan berbagai persoalan mendasar yang selama ini mereka hadapi.

Jehamat, salah satu warga, berbicara tentang tanah yang setia memberi hasil namun belum sepenuhnya diberdayakan.

Ia tidak menuntut janji besar, hanya pendampingan bagi petani dan akses permodalan agar produktivitas pertanian meningkat.

“Petani butuh pengetahuan,” katanya.

Bukan sekadar tenaga, tetapi keahlian agar sawah dan kebun tidak lagi berjalan sendiri, melainkan ditemani ilmu.

Sementara itu, Pelipus Supandi menyuarakan kebutuhan yang paling mendasar yaitu air minum bersih. Di Desa Pantar, air bukan sekadar kebutuhan, tetapi masih menjadi harapan yang harus diperjuangkan.

Selain air bersih, Pelipus juga menyoroti pentingnya akses jalan menuju Dusun Nangga (Pau) agar hasil pertanian dapat diangkut dengan lancar.

Menurutnya, jalan tani yang layak akan memastikan jerih payah petani tidak berhenti di lumpur dan tanjakan.

Ia juga menekankan kebutuhan alat dan mesin pertanian (alsintan) agar kerja petani tidak selalu bertumpu pada tenaga manual.

Hal senada ditegaskan Kepala Desa Pantar, Max Suhandi. Menurutnya, air bersih dan alsintan menjadi program prioritas desa bukan karena ambisi, melainkan karena kebutuhan nyata masyarakat.

Reses di bawah pohon rindang itu menjadi ruang refleksi bersama. Kanisius menilai bahwa pembangunan sejati tidak selalu dimulai dari gedung tinggi atau angka besar di atas kertas.

Pembangunan, kata dia, sering lahir dari tanah yang diinjak, air yang dicari, jalan yang ingin dilewati, dan petani yang ingin naik kelas.

Reses ini bukan sekadar mencatat aspirasi, tetapi menjadi pengingat tentang hakikat tugas wakil rakyat menjembatani harapan masyarakat dengan kebijakan publik.

“Karena dari desa, kita belajar arti masa depan,” kata Kanisius.

Reses hari kedua dilanjutkan di Desa Macang Tanggar yang berlangsung pada Minggu (21/12/2025). Di desa ini, Kanisius kembali dihadapkan pada realitas yang sama yaitu petani masih berjuang sendirian.

Petani menyampaikan kondisi kebun dan sawah yang masih dikelola secara tradisional, minimnya pengetahuan pertanian modern, keterbatasan alsintan, serta akses jalan tani yang belum memadai.

Mereka, menurut Kanisius, tidak meminta kemewahan. Petani hanya berharap pendampingan yang serius, teknologi yang terjangkau, dan jalan yang layak agar hasil kebun dan sawah bisa keluar dari kampung dan memiliki nilai ekonomi yang lebih baik.

Menurutnya, jika pertanian adalah tulang punggung ekonomi desa, maka negara dan pemerintah daerah memiliki kewajiban memastikan petani tidak berjalan sendiri.

Modernisasi pertanian, tegas Kanisius, tidak boleh berhenti sebagai slogan, tetapi harus hadir sebagai kebijakan nyata yang menyentuh sawah dan kebun.

Suara dari Macang Tanggar menjadi catatan penting bahwa membangun daerah harus dimulai dengan mendengarkan petani dan menguatkan sektor riil, sebagai fondasi ekonomi Manggarai Barat yang berkelanjutan.**