LABUANBAJOVOICE.COM – Eks gelandang Tim Nasional Indonesia, Evan Dimas Darmono, menepis anggapan lama bahwa pemain asal Nusa Tenggara Timur (NTT) sulit menembus skuad Timnas Indonesia.
Ia menegaskan bahwa kesempatan membela Merah Putih terbuka lebar bagi siapa saja, tanpa memandang latar belakang daerah.
Pernyataan ini disampaikan Evan saat memimpin sesi coaching clinic dalam ajang Festival Sepak Bola Rakyat di Stadion Ora Flobamora, Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu, 13 Desember 2025.
Di tengah antusiasme ratusan pelajar usia 15–18 tahun yang mengikuti kegiatan tersebut, Evan menekankan bahwa narasi ketimpangan daerah dalam sepak bola nasional tidak lagi relevan.
Menurutnya, kualitas, kerja keras, dan karakter tetap menjadi faktor utama dalam proses seleksi pemain nasional.
“Catatan saya, seharusnya semua pemain dari mana pun memiliki kesempatan yang sama. Bukan berarti dari NTT tidak bisa menjadi pemain Timnas. Teman saya Yabes Roni dari NTT, Marselino juga Bapaknya orang NTT,” ujar Evan di sela-sela kegiatan.
Dalam sesi pembinaan tersebut, Evan Dimas menyampaikan pesan khusus kepada talenta muda NTT agar tidak merasa minder dan ragu terhadap potensi diri sendiri.
Ia menegaskan bahwa character building merupakan fondasi penting dalam pembinaan pesepak bola usia dini, bahkan sama pentingnya dengan teknik dan taktik permainan.
Menurut Evan, sepak bola bukan sekadar adu fisik dan keterampilan, melainkan sarana membangun nilai-nilai kehidupan.
“Kalau kita bicara sepak bola, menurut saya bukan hanya sekadar permainan atau olahraga. Tapi sepak bola harus melibatkan unsur kearifan, keindahan, kejujuran, dan kerukunan yang menjunjung tinggi nilai fair play,” tegas Evan Dimas.
Mantan pemain Persebaya Surabaya itu menilai bahwa mentalitas generasi muda harus ditempa sejak awal, terutama dalam menanamkan rasa hormat terhadap semua elemen di lapangan.
“Karakter sangat penting. Bukan hanya skill dan teknik, tapi bagaimana respek terhadap lawan. Ketika ada turnamen, tidak menganggap tim lain itu sebagai musuh, tapi menganggap tim lain sebagai saudara,” tambahnya.
Evan Dimas juga mengaku terkesan dengan potensi besar yang dimiliki anak-anak NTT.
Ia menilai bahwa kondisi geografis dan kehidupan alam di wilayah pelosok justru membentuk keunggulan fisik alami yang jarang dimiliki pemain dari daerah lain.
“Saya lihat adik-adik dari postur badannya itu memang seperti sudah ditempa dengan alam. Attitude bagus, skill teknik juga bagus. Tinggal bagaimana kita mengawal mereka dari usia dini sampai menjadi pemain yang bertumbuh kembang,” jelasnya.
Menurut Evan, tantangan terbesar bukan pada bakat, melainkan pada kontinuitas pembinaan, akses kompetisi, serta pendampingan jangka panjang agar potensi tersebut tidak hilang di tengah jalan.
Evan berharap Festival Sepak Bola Rakyat yang digagas oleh Garuda Gemah Nusantara (GGN) bersama Coca-Cola Indonesia dapat digelar secara rutin dan berkelanjutan.
Ia menilai program ini sebagai jembatan penting untuk membuka akses scouting bagi talenta-talenta yang selama ini berada jauh dari radar kompetisi nasional.
“Potensi di daerah mungkin yang tidak terlihat bisa menjadi terlihat. Saya berharap adanya festival ini bisa memunculkan bibit dari pelosok-pelosok yang bisa membela Merah Putih ke depan,” pungkasnya.
Festival Sepak Bola Rakyat di Labuan Bajo menjadi pembuka rangkaian kegiatan pencarian bakat nasional. Selain sesi teknik bersama Evan Dimas dan Coach Patrick Domal, kegiatan ini turut dihadiri Wakil Ketua Umum PSSI Ratu Tisha, Project Manager GGN Antonius Anadri, serta Communication Lead Coca-Cola Indonesia Fauziah Syafarina Nasution.
Kehadiran para pemangku kepentingan ini menegaskan komitmen bersama dalam membangun ekosistem sepak bola usia muda yang lebih inklusif, merata, dan berkelanjutan, khususnya di kawasan timur Indonesia.**

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan